|
JAKARTA - Peta koalisi menuju pemilihan presiden (pilpres) 8 Juli mendatang bergerak dinamis. Pertemuan demi pertemuan antartokoh partai yang mempunyai suara signifikan dari hasil Pemilu 9 April lalu terus dilakukan. Tadi malam Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertemu Wapres Jusuf Kalla (JK), dalam kapasitas sebagai ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat dan ketua Umum DPP Partai Golkar.
Pertemuan berlangsung tertutup di kediaman SBY di Puri Cikeas Indah, Bogor. JK datang menggunakan Mercedes-Benz hitam dengan pelat nomor B 8293 FO pukul 22.00. Tidak seperti biasanya, JK tidak membuka kaca mobilnya untuk sekadar melambaikan tangan kepada puluhan wartawan yang sejak sore menunggu di pintu gerbang Puri Cikeas Indah.
Pukul 22.40, rombongan JK meninggalkan kediaman SBY. JK kembali tidak menampakkan wajahnya. Saat meninggalkan kediaman SBY, JK justru menutup kaca mobilnya dengan tirai.
Pertemuan antara SBY dan JK tadi malam sebenarnya merupakan pertemuan kedua, setelah Pemilu 2009. Pertemuan pertama terjadi saat rapat kabinet membahas persiapan penyusunan RAPBN 2010 di Kantor Presiden siang kemarin. Dalam rapat kabinet itu, JK datang pukul 14.00 mengenakan kemeja putih. SBY dan JK memimpin rapat kabinet yang diikuti para Menko dan menteri di bidang ekonomi.
JK masuk terlebih dahulu ke ruang rapat. Beberapa saat setelah itu SBY masuk. Dia mengenakan baju safari abu-abu. Begitu masuk, SBY langsung menyalami JK. "Welcome," kata SBY.
Setelah menyalami JK, SBY bersalaman dengan para menteri. Baik SBY maupun JK terlihat biasa saja, seperti rapat kabinet yang sering dilakukan selama ini. Rapat berlangsung dua jam hingga pukul 16.00.
Ketua Departemen SDM DPP Partai Demokrat Andi Mallarangeng mengatakan, partainya sedang menyiapkan format koalisi dengan sejumlah parpol. "Kami sedang melakukan pertemuan-pertemuan intensif," katanya sore kemarin.
Meski pertemuan SBY-JK tadi malam berlangsung tertutup, bisa diduga kedatangan JK itu terkait rapat koordinasi para petinggi DPP Partai Golkar yang diadakan Minggu malam lalu (12/4). Hasil pertemuan itu meminta JK merapat ke SBY. Apakah pertemuan tadi malam untuk menegaskan rekomendasi rapat para petinggi Golkar tersebut? Hingga tadi malam, belum ada keterangan resmi soal itu, baik dari kubu SBY maupun JK.
Demokrat Bertemu PKB
Jika SBY bertemu JK, para pengurus DPP Partai Demokrat tadi malam bertemu jajaran pengurus DPP PKB di Hotel Niko. Pertemuan berlangsung 1,5 jam sejak pukul 20.00.
Dari kubu Demokrat hadir, antara lain, Ketua Umum DPP Partai Demokrat Hadi Utomo, Marzuki Alie (Sekjen), dan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Syarief Hassan. Sedangkan dari PKB hadir, antara lain, Muhaimin Iskandar (ketua umum), Lukman Edy (Sekjen), Helmy Faishal Zaini (ketua), dan Marwan Jafar (sekretaris FKB).
Menurut Helmy Faishal, pertemuan tersebut untuk mematangkan format koalisi. Partai Demokrat, kata Helmy, memaparkan syarat koalisi seperti yang pernah disampaikan SBY. "Pada dasarnya kami sependapat soal koalisi yang beretika dan konkret, serta tertulis, demi membangun pemerintahan yang efektif," kata Helmy.
Mengenai wacana kembalinya JK ke SBY, menurut Helmy, hal itu tidak masalah. PKB juga bisa menerima jika SBY nanti berduet lagi dengan JK.
Di bagian lain, embrio kubu yang siap menghadang SBY dalam Pilpres 2009 terus menggeliat. Kemarin siang, terjadi pertemuan antara Letjen (pur) Prabowo Subianto yang juga ketua Dewan Pembina Partai Gerindra dan Jenderal (pur) Wiranto, ketua umum DPP Partai Hanura.
Pertemuan tersebut menarik karena baru kali pertama itu keduanya berjabat tangan di depan publik sejak 1998. Sebelas tahun lalu itu, dua jenderal tersebut bersitegang. Mereka berselisih paham seputar peristiwa 1998.
Prabowo melalui orang dekatnya, Fadli Zon, menulis buku Politik Huru Hara Mei 1998. Dia menuding Wiranto membiarkan kerusuhan Mei karena justru pergi ke Malang saat hal itu terjadi. Di bagian lain, Wiranto dalam buku Bersaksi Melawan Badai justru ganti menuding Prabowo yang gagal mengendalikan situasi karena posisinya saat itu sebagai Pangkostrad.
Karena itu, ketika keduanya kemarin bertemu, para wartawan pun tak ingin kehilangan momentum tersebut.
Prabowo mendatangi markas Partai Hanura di Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, sekitar pukul 12.05, dengan Lexus putih B 17 PSD. Sebelumnya, beberapa petinggi Gerindra terlebih dahulu datang. Di antara mereka adalah Ketua Umum Gerindra Suhardi dan Wakil Ketua Umum Fadli Zon. Juga hadir Muchdi Pr dan Haryanto Taslam. Wiranto dan jajaran Hanura sudah menunggu di teras kantor.
Turun dari mobil, Prabowo bergegas masuk, namun langkahnya terhalang wartawan. "Saya ini mau silaturahmi kok malah kalian hadang," katanya kepada wartawan, lalu tersenyum. Begitu sampai di teras, Prabowo yang mengenakan baju safari krem lengan pendek itu langsung memberikan hormat dengan sikap sempurna. Wiranto membalas hormat itu, lalu merangkulnya sembari tersenyum lebar.
"Sehat Mas," sapa Prabowo, lalu menjabat erat tangan Wiranto. Belasan fotografer dan kamerawan meminta mereka melakukan salam komando. Setelah berpose, mereka menggelar pertemuan tertutup selama satu jam.
Kepada wartawan, Wiranto menjelaskan, pertemuan dengan Prabowo sebenarnya pernah terjadi sebelumnya. "Ini bukan yang pertama, kalian saja yang tidak tahu," katanya, lalu tersenyum. Dia juga berjanji akan melanjutkan pertemuan itu secara intensif.
"Kita sepakat. Sikap kita sama, ada yang tidak beres dalam pelaksanaan pemilu," tegas mantan Menhankam/panglima ABRI itu. Hanura dan Gerindra akan membuat posko bersama yang dilengkapi dengan tim advokasi dan bantuan hukum. "Bukan hanya dua partai ini, tapi 23 partai," tambahnya.
Mereka juga menyiapkan gugatan hukum terkait proses dan hasil pemilu. "Nanti kita tunggu investigasi secepatnya," ujar Wiranto. Bagi purnawirawan jenderal asal Solo itu, pilpres harus dihelat setelah kasus kecurangan dan manipulasi DPT (daftar pemilih tetap) pemilu legislatif selesai secara hukum. "Apa gunanya kita melanjutkan ke proses berikutnya kalau banyak kecurangan?" katanya.
Di tempat yang sama, Prabowo juga mengungkapkan kekecewaannya. "Kami prihatin atas praktik-praktik yang tidak sesuai dengan kaidah demokrasi," ujarnya.
Menurut mantan Pangkostrad itu, lebih dari 45 persen warga negara yang memiliki hak pilih tidak bisa memilih. "Anda tahu ini adalah penyelenggaraan pemilu yang paling jelek selama sejarah republik. Saya sebagai warga negara merasa malu. Secara pribadi, saya nilai ada upaya sistematis. Bagaimana mungkin orang mati dan anak kecil bisa masuk DPT," katanya.
Apakah pertemuan itu berarti keduanya bersatu melawan SBY? Prabowo tidak menjawab secara tegas. Hal yang sama juga dikatakan Wiranto. "Hanura dan Gerindra memperjuangkan tujuan politik yang sama meski kendaraannya berbeda. Jadi, jangan heran kalau suatu saat nanti kami melakukan pertemuan untuk menyatukan semangat dan perubahan. Tapi, untuk saat ini, kami belum membicarakan koalisi pilpres."
Dari beberapa pertemuan sebelumnya, sangat mungkin Prabowo dan Wiranto bergabung ke kubu Megawati Soekarnoputri untuk melawan SBY pada pilpres mendatang. (rdl/dyn/kum) Sumber: Jawa Pos
|