|
Mau pinjam buku dalam bahasa Indonesia, Belanda atau Inggris? Atau ikut kursus menari? Semuanya bisa di yayasan Coba Baca, Lovina, Bali Utara. Pendirinya adalah Coba (baca Koba, Red.) Maas-Kewilaa, perempuan Maluku kelahiran Belanda.
Coba dan suami berdarah Belanda, sudah sejak enam tahun tinggal di Bali. Perempuan berdarah Maluku ini sangat peduli dengan sesama manusia. Ketika baru tinggal di Indonesia, ia langsung terlibat kegiatan panti asuhan di Singaraja. Di sana ia mencari tahu apa saja yang disukai anak-anak, khususnya di Bali, dan apa kebutuhan mereka.
Coba menemui anak-anak suka sekali membaca, tapi tidak punya uang untuk membeli atau meminjam buku. Timbullah ide mendirikan perpustakaan. Impian jadi kenyataan. Yayasan Coba Baca mulai berdiri dua tahun silam dan terdiri dari perpustakaan, pusat studi dan tempat kursus.
5000 buku Perpustakaan memiliki koleksi lebih dari 5000 buku. Sebagian besar dalam bahasa Indonesia, tapi ada juga buku dalam bahasa Inggris dan Belanda. Orang yang tidak mampu membayar iuran keanggotaan, tetap bisa meminjam buku, lewat dana sponsor.
Sponsor kebanyakan dari luar negeri. Mereka adalah orang atau perusahaan yang menganggap penting proyek ini.
Karena iuran tidak mahal, sedikit saja orang yang perlu disponsori. Anak-anak hingga usia 18 tahun membayar 15.000 rupiah per tahun. Mereka bisa meminjam dua buku per minggu. Orang dewasa, dari 18 tahun ke atas membayar 30.000 rupiah per tahun. Perpustakaan kini memiliki hampir 1000 anggota.
Tidak dikembalikan Banyak orang di sekeliling tidak menanggapi positif ide Coba. Mereka menunjuk pada kemungkinan, buku-buku itu tidak dikembalikan. "Namun," demikian Coba, "perpustakaan kan berfungsi untuk meminjamkan buku." Lagipula, dalam prakteknya tidak separah seperti dibayangkan. Tidak banyak buku yang hilang.
Di Lovina, Bali Utara, tinggal banyak orang asing. Kaum ekspat juga bisa menjadi anggota perpustakaan. Tapi mereka harus bayar iuran yang lebih besar. Coba Baca memakai iuran yang dibayar ekspat untuk memberi les tambahan bahasa Inggris secara cuma-cuma. Iuran keanggotaan bagi ekspat 100.000 rupiah per tahun.
Iuran yang dibayar para ekspat ini, selain untuk membiayai kursus atau les tambahan juga dipakai untuk membiayai semua keperluan perpustakaan.
Bahasa Belanda Selain kursus bahasa Inggris, Coba Baca juga menyediakan kursus bahasa Belanda, Indonesia dan Jepang. Semua kursus ini cuma-cuma, kecuali buat para ekspat atau karyawan perusahaan, yang majikannya bersedia membiayai kursus tersebut.
Masyarakat Bali sangat antusias dengan proyek Coba Baca. Mereka merasa baca itu penting. Wakil yayasan-yayasan lain suka mendatangi perpustakaan Coba Baca, meminta informasi tentang seluk-beluk mendirikan proyek serupa.
Apa rencana-rencana yayasan Coba Baca untuk masa depan?
"Kami ingin mengembangkan lebih jauh perpustakaan, juga menaruh lebih banyak perhatian pada pemberian pelajaran. Selain dari perpustakaan, yayasan Coba Baca juga terdiri dari pusat studi dan budaya," kata Coba menjelaskan.
Perempuan ini juga ingin memperluas gedung. Sejauh ini semua aktivitas, seperti teater, streetdance, tarian Bali dilakukan di gedung perpustakaan.
Tim pengajar juga karyawan yayasan Coba Baca. Sebagai contoh Mulianing, ketua yayasan. Ia memberikan les bahasa Inggris kepada murid SD. Selain itu juga memberi les teater dan streetdance. Sementara bendahara yayasan, Febe, memberi les komputer, gambar, gitar dan mengurus banyak kegiatan-kegiatan lain. Tim kecil ini mampu berbuat banyak hal.
|