|
Saat ini Indonesia sebaiknya menerapkan kampanye pemasaran gerilya guna mendongkrak masuknya angka wisatawan asing ke Indonesia. Demikian salah satu butir pemikiran Tim Komisi X DPR-RI dalam acara Roadshow DPR-RI-Depbudpar di Belanda yang bertema “Menghadapi ketatnya persaingan sektor pariwisata di pasar utama serta kondisi terkini seputar kepariwisataan nasional”. Acara yang dikemas dalam bentuk tatap muka ini dilakukan di hadapan seluruh staff KBRI Den Haag dan sejumlah wakil masyarakat Indonesia pada tanggal 26 Juni 2008 bertempat di KBRI Den Haag. Delegasi DPRI-RI-Depbudpar dimaksud terdiri dari 4 anggota Komisi X DPR-RI lintas partai yang membidangi sektor pariwisata yakni Wakil Ketua Didik Junaedi Rachbini, dan tiga anggota: Mulyono Joko Santoso, Willem Manuel Saul dan Cheppy Triprakoso Wartono. Sedangkan Depbudpar diwakili oleh Jordi Paliama dari Direktorat Promosi Luar Negeri. Acara ini merupakan salah satu upaya bersama dari pihak legislatif dan eksekutif guna memberikan panduan di bidang promosi Tourism, Trade and Investment (TTI), khususnya turisme, kepada para pejabat KBRI sebagai ujung tombak pemasaran pariwisata Indonesia, sekaligus untuk mengetahui kondisi di pasar utama pariwisata Indonesia, serta memperoleh masukan dari Perwakilan RI di luar negeri. Hasil dari pertemuan ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangan dalam pembentukan UU Pariwisata yang sedang digodok oleh DPR-RI. Acara roadshow di KBRI Den Haag ini dibuka secara resmi oleh Wakil Kepala Perwakilan, Bapak Djauhari Oratmangun, yang juga menyampaikan presentasi mengenai langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan oleh KBRI Den Haag dalam mempromosikan TTI, khususnya di bidang pariwisata. Dikemukakan antara lain bahwa mengingat keterkaitan histori dan emosi maka pasar wisatawan Belanda bagi Indonesia sudah jelas dan potensinya masih dapat dikembangkan. Dengan jumlah wisatawan sekitar 115.000 dan masa tinggal rata-rata lebih dari 20 hari maka upaya promosi tidak bisa diabaikan guna mempertahankan pasar tersebut serta meningkatkannya di tengat-tengah upaya sengit dari pesaing utama Indonesia dalam merebut pasar tersebut. Sementara itu, beberapa pokok pemikiran dalam presentasi Komisi X DPR-RI adalah: (1) Penerapan kampanye gerilya yang menumpukan diri pada unit-unit kecil, fokus dan akurat yang dilandasi oleh minimnya anggaran dan kekuatan pesaing yang jauh lebih besar; serta (2) penerapan strategi ala “benteng stelsel” dengan melakukan segmentasi terhadap wilayah yang strategis guna penetrasi pemasaran. Menanggapi presentasi KBRI Den Haag, dikemukakan bahwa berbagai upaya yang telah dan akan dilakukan perwakilan tersebut sedikit banyak sejalan dengan strategi yang yang disampaikan DPR-RI. Dalam acara tanya jawab muncul gagasan-gagasan yang dianggap cukup orisinil dan workable, sehingga muncul pemikiran untuk melakukan pilot project strategi pemasaran pariwisata di Belanda, misalnya dengan memanfaatkan banyaknya warga keturunan Indonesia di Belanda.
|