|
JAKARTA - Tren menurunnya harga minyak mentah dunia berimbas positif pada industri plastik. Pasalnya, saat ini harga bahan baku plastik, seperti polypropylene, ikut turun.
''Karena tren ini, kami optimistis industri plastik bakal tumbuh 6 persen akhir tahun ini,'' ujar Sekjen Asosiasi Plastik Indonesia (Inaplas) Budi Susanto Sadiman di sela pameran industri plastik di Jakarta kemarin (6/8).
Menurut Budi, pada kuartal I tahun ini industri plastik di tanah air tumbuh 3 persen. Lantas, pada kuartal II tumbuh 6 persen. ''Rata-rata pertumbuhan saat ini (hingga semester I 2008) sekitar 4,5 persen. Jadi, kita yakin terus meningkat akhir tahun ini dan bisa menembus 6 persen,'' tuturrnya.
Tahun lalu, ungkap dia, konsumsi plastik nasional mencapai 2,4 juta ton. Akhir tahun ini diharapkan bisa menembus 2,54 juta ton. ''Sekitar 30 persen kebutuhan plastik atau sekitar 600 ribu ton dipenuhi dari impor,'' katanya.
Dia menyebut, selama ini 60-70 persen konsumsi plastik diserap oleh industri kemasan. ''Kita memang tertopang oleh meningkatnya permintaan dari industri pengemasan, terutama kemasan makanan,'' jelasnya. Selain itu, industri plastik tertopang meningkatnya permintaan kemasan produk-produk pertanian seiring booming komoditas primer.
''Kita juga menjajaki kerja sama dengan produsen semen untuk pengemasan. Jadi, semen nanti tak lagi dibungkus kertas, tapi plastik. (Dampak pada industri plastik) itu akan sangat signifikan karena permintaan produsen semen akan sangat banyak,'' paparnya.
Apalagi, lanjut dia, masalah suplai bahan baku (polypropylene dan polyetilene) yang sebelumnya sempat menghambat produksi sudah tuntas. ''Dua perusahaan pemasok, Tripolyta dan Polytama, sudah menjamin (suplai) aman Agustus ini,'' katanya.
Seiring turunnya harga minyak, harga bahan baku plastik juga turun. Saat ini ada di kisaran USD 1.700-USD 1.800 per ton. ''Sebelumnya, sempat menembus USD 2 ribu per ton,'' ujarnya.
Konsumsi plastik Indonesia terbilang rendah, yaitu 9,5 kg per tahun. Padahal, konsumsi di negara-negara jauh melebihi. Misalnya, Singapura mencapai 80 kg per tahun, Thailand 42 kg, dan Malaysia 64 kg. (eri/dwi) sumber: www.jawapos.co.id
|