• INDONESIA BERPARTISIPASI DI FLORIADE, 5 APRIL - 7 OKTOBER 2012
Melampaui Gegar Budaya, Gampang-gampang Susah PDF Cetak E-mail
Jumat, 17 Pebruari 2012
Pindah dan menetap di daerah yang sama sekali baru membuat hati berdebar-debar. Harapan dan kenyataan apa yang diterima nantinya dalam suasana baru? "Ternyata orang Belanda itu tidak berlebihan. Apapun sesuai dengan porsinya," demikian kesan Lilik Kristadi ketika tiga belas tahun lalu menginjakkan kakinya di negeri kincir angin ini.

Lilik mengatakan itu bukan tanpa alasan. Hal itu dialaminya ketika bertamu ke salah seorang kenalan orang Belanda bersama suaminya. Semua hidangan yang disediakan sesuai jumlah orangnya. “Pokoknya ngitungnya pas, lain dengan di Indonesia, sediakan saja yang lebih, liat gimana nanti.”

Kebalikannya yang dialami Femke den Haas. Perempuan Belanda ini baru saja melahirkan anak pertamanya. Ia sudah 14 tahun tinggal di Indonesia. Semula Femke belum mengenal “lebih jauh” Indonesia. Baru setelah tinggal lama di Indonesia, ada sisi negatif yang terungkap.

Ramah
Waktu baru pertama tinggal, Femke mengira orang Indonesia baik-baik dan ramah semua. Tapi lama kelamaan, ia menemukan tidak semua begitu. Ada banyak juga orang Indonesia yang ngomong di belakangnya lalu bercerita hal-hal negatif tentang dirinya.

“Lain dengan di Belanda, semua orang ngomong langsung. Makanya ketika saya balik beberapa waktu lalu untuk melahirkan saya merasa lega. Nikmatnya, di sini (Belanda--red) orang ngomong terus terang,” ujar Femke den Haas aktivis penyelamat binatang sekaligus pendiri Jakarta Animal Aid Network tersebut.

Kebalikan dengan Lilik yang bekerja sebagai asisten dokter gigi. Di awal-awal tinggal di Belanda, ia malah sempat terkejut ketika orang Belanda terang-terangan menyatakan ketidak sukaan mereka di hadapannya.

Wajar
Yang dialami Lilik maupun Femke itu wajar-wajar saja jika seseorang pindah ke daerah baru. Masalah gegar budaya itu menurut pengamat kawin campur dan komunikasi antar budaya, Leila Mona Ganim, terjadi karena bahasa dan budaya yang biasa dipakai ternyata tidak dialami lagi di daerah baru.

“Jika dilihat maka grafiknya itu seperti huruf U. Di awal, ketika sampai di daerah yang dituju, menemukan kesenangan-kesenangan. Semuanya serba baru, bahagia, melihat sesuatu yang beda dengan daerah asal. Lalu setelahnya merosot, ketika menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan atau tidak mendukung apa yang pertama kali dialami,” tutur Leila, pengarang buku Beda Itu Berkah, yang mengulas masalah gegar budaya.

Kemudian, lanjut Leila, perasaan itu naik ke atas lagi berganti menjadi rasa nyaman. Karena sudah bisa menerima dan beradaptasi dengan tempat tinggal baru. Menurutnya kebanyakan orang mengalami grafik huruf U tersebut.

Tak bisa terima
“Tetapi ada pula yang tidak tahan, dan akibatnya mengalami stres, baik psikologis, emosional atau fisik, karena ketidaksiapan atau tidak cukup pengetahuan, pemahaman serta tidak membuka diri.”

Pengalaman Hasti Tarekat lain lagi. Sampai saat ini ia masih sulit untuk bersahabat dengan orang Belanda, meskipun sudah selama sepuluh tahun tinggal di negeri kincir angin ini.

“Pernah pula saya tidak tahu harus berbuat apa ketika dikirimi kartu kematian ayah teman saya. Saya tidak mengontak, dan akhirnya saya merasa tidak enak sendiri. Untung saja teman saya itu memahami perbedaan budaya yang saya alami.”

Menurut Hasti yang menjadi perwakilan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia BPPI di Belanda, sampai sekarang pun, teman Indonesianya lebih banyak dibanding teman orang Belanda.

Sementara Leila Mona Ganiem melanjutkan, gegar budaya, besar atau kecil, akan dilalui. Mengetahui budaya daerah atau negara yang ditinggali bukan berarti langsung menghapus potensi gegar budaya. Itu sekurang-kurangnya bakal mengurangi dampak psikologisnya.

Pola pendidikan
Contohnya tambah Leila, seorang temannya menikah dengan duda satu anak, dari Australia. "'Bagaimana sang suami memperlakukan anaknya membuat sang istri syok. Anak gadisnya itu tinggal sendiri dan menafkahi dirinya sendiri karena sudah berusia 18 tahun. Sementara pacarnya ganti-ganti dan kerap menginap di apartemennya. Sang ayah hanya sekali mengingatkan untuk berhati-hati memilih teman," tutur Leila.

Masalah yang membuat gegar budaya dalam konteks tersebut, karena teman Leila itu melihat banyak ketidaksesuaian norma, dan pola yang dianggap salah di Indonesia.

Makanya sebelum pindah ke negara atau tempat baru akan lebih baik kalau mempelajari dan berkumpul bersama komunitas orang-orang wilayah yang akan kita tinggali terlebih dahulu untuk mengurangi dampak dari gegar budaya.
 
Sumber: Radio Nederland
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Copyright © 2008 indonesia.nl
KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
Tobias Asserlaan 8, 2517 KC Den Haag