Dengan samangatnya yang mengebu-ngebu, Dubes RI Den Haag Bapak JE Habibie selama hampir dua jam membakar semangat nasionalisme mahasiswa Universitas Riau (UNRI) dalam kuliah umum yang diselenggarakan pada tanggal 7 Nopember 2008 di kampus UNRI Pekanbaru. Kuliah umum yang mengambil tema
Nasionalisme di Era Globalisasi tersebut mendapat sambutan yang sangat baik dan dihadiri tidak kurang dari 300 mahasiswa dari berbagai fakultas, dosen dan civitas akademika.

Rektor UNRI Prof. Dr. Ashaluddin Jalil dalam perkenalannya menyampaikan bahwa ini adalah untuk pertama kalinya kampus UNRI mendapat kehormatan kunjungan dari Dubes yang sangat
concern dengan masalah nasionalisme bangsa. Dalam era Globalisasi saat ini, masalah nasinalisme dirasakan sangat relevan untuk dibicarakan. Kemajuan teknologi/komunikasi dan prinsip kebebasan yang terkandung dalam semangat demokrasi ternyata sering ditafsirkan menyimpang dari tujuan yang hendak dicapai. Demokrasi sering diterjemahkan sebagai kebebasan tanpa batas, sehingga tidak pelak hal tersebut telah berdampak kepada terkikisnya nilai-nilai moral dan rasa nasionalisme kepada NKRI.
Dalam paparanya Dubes RI Den Haag pada intinya menyampaikan bahwa globalisaasi dan nasionalisme sebetulnya adalah dua hal yang dapat berjalan secara bersama, sepanjang peluang yang ada dalam globalisasi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas dan bukan kepentingan kelompok atau golongan. Globalisasi di Indonesia telah melahirkan era reformasi dengan tujuan pokok adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, sampai saat ini tujuan reformasi belum tercapai karena perjalanan reformasi sering dibelokan untuk kepentingan tertentu. Reformasi sering disikapi dengan pergantian total, sehingga tidak jarang atas nama reformasi hal-hal positif yang telah kita capai dalam masa lalu dihancurkan dan diganti dengan yang baru, sehingga bangsa Indonesia tidak pernah dapat membangun rumah idaman yang menjadi tujuan dari reformasi tersebut. Waktu dan energi kita buang untuk hal-hal yang membuat kita berjalan di tempat. Padahal demokrasi mengajarkan kita untuk mempertahankan yang baik dan menyempurnakannya dengan yang baru.

Diingatkan bahwa agenda reformasi belum selesai, kita menghadapi tantangan yang tidak ringan: korupsi, terorrisme, saparatisme, ilegal logging/fishing, kerusakan lingkungan, dll adalah pekerjaan yang harus kita tuntaskan. Demikian juga dalam proses berdemokrasi, kita sering mengabaikan nilai-nilai moral dan sopan santun yang selama ini menjadi ciri khas bangsa Indonesia, sehingga dewasa ini banyak orang tidak dapat membedakan antara mengkritik dan menghujat. Untuk itu Dubes RI mengharapkan kepada generasi muda khususnya mahasiswa yang hadir agar pandai-pandai memanfaatkan peluang globalisasi guna meningkatkan prestasi akademis sehingga kelak menjadi insan yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Selain itu para generasi muda juga perlu untuk senantiasa menjaga kepribadian dan berbudi baik sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa, pantun Melayu mengatakan:
Pulau Pandan Jauh di Tengah di Balik Pulau Siangsa Dua, Hancur Badan Dikandung Tanah Budi Yang Baik Terkenang Jua.
Kunjungan Dubes RI ke Propinsi RIAU juga dimanfaatkan bertemu dengan Kepala Daerah yang diantaranya membicarakan tentang strategi promosi TTI RIAU di Belanda di masa datang.