|
Sejak armada kapal yang dipimpin pelaut Belanda, Cornelis de Houtman, berlabuh di Banten pada 23 Juni 1596, kehidupan di Nusantara tak pernah sama. Dari kepulauan yang terdiri atas ratusan kerajaan yang saling bersaing disatukan oleh nasib yang sama sebagai daerah jajahan Hindia Belanda, hingga kemudian menjadi Indonesia, Belanda jadi bagian dari sejarah perjalanan itu.
Belanda, yang semula hanya berdagang pada awal kedatangannya, akhirnya menancapkan kukunya sebagai penjajah melalui kongsi dagang mereka: Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Mengalami pasang surut dari berdagang hingga menjajah, kini—412 tahun kemudian—interaksi antara Belanda dan Nusantara itu memasuki babak baru.
Lembaran baru itu dimulai tahun lalu ketika untuk pertama kali dalam sejarah diplomasi kedua negara, Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenende datang dalam peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945) di KBRI Belanda di Den Haag. Peringatan itu diselenggarakan pada 4 September 2007.
Ketimpangan ekonomi
Namun, ketika hubungan diplomatik sudah setara dan dewasa, tak demikian dengan kesetaraan ekonomi. Belanda yang pernah 350 tahun menjajah Indonesia hingga kini tetap menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi dunia.
Sebagai perintis korporasi dagang internasional melalui VOC, orientasi bisnis Belanda juga masih mendunia. Belanda adalah investor terbesar nomor enam di dunia dengan nilai investasi 653 miliar dollar AS hingga tahun 2006 (UNCTAD, 2007). Di Indonesia, mereka adalah investor terbesar nomor tujuh selama kurun 1967-2007. Nilai investasi yang ditanamkan mencapai 8,04 miliar dollar AS dalam 606 proyek.
Adapun Indonesia, hingga kini masih lekat dengan citra kemiskinan dan kemandekan sebagaimana ditulis oleh Peter Boomgaard (Children of the Colonial State, 1989) tentang Indonesia (khususnya Jawa) pada awal abad ke-19.
Bagaimana Belanda membangun struktur ekonominya? Kenapa Indonesia seperti terkena kutukan bahwa negeri terjajah tidak pernah bisa bangkit melampaui bekas penjajahnya?
Pertanyaan itu terus menghantui selama menyusuri kota demi kota di Belanda sambil mengingat kondisi perekonomian di Tanah Air yang megap-megap diterpa krisis ekonomi global dan kini tengah berancang-ancang mencari tambahan utang luar negeri.
Dari rempah hingga sawit
Cees van Dijk (Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, 2008), menyebutkan, orang Nusantara yang pertama datang ke Belanda adalah utusan Sultan Aceh, yaitu Abdul Zamat, Sri Muhammad, dan Mir Hasan. Mereka tiba di Zeeland, Belanda, pada akhir Juli 1602 atas undangan Pangeran Maurits.
Waktu itu, Belanda masih berjuang menegakkan negaranya menjadi Republik Belanda dan tengah dalam pertempuran 80 tahun melawan Spanyol. Di Asia, Belanda sama sekali belum memiliki kuku. Multatuli pada tahun 1872 (ketika Perang Aceh mulai berkobar) pernah mengingatkan bahwa Aceh adalah negeri pertama yang mengakui Belanda sebagai bangsa merdeka.
Namun, selang tiga tahun setelah kedatangan utusan Aceh ke Zeeland, Belanda melalui VOC merebut Ambon dari Portugal, lalu pada tahun 1619 mereka menghancurkan Batavia. Sejak itu, VOC mulai menguasai perdagangan rempah dari Nusantara ke Eropa. Cerita haru biru pun mewarnai kolonialisasi Belanda di Indonesia selama lebih dari 350 tahun.
”Itu cerita lama. Sekarang saatnya melihat prospek perdagangan ekonomi ke depan yang lebih menjanjikan. Lihatlah, ketika dunia masih dilanda krisis ekonomi, Menteri Ekonomi Belanda dan sejumlah investor justru datang ke Indonesia pada 9-13 November ini. Itu artinya mereka percaya kepada kita,” kata JE Habibie, Duta Besar Indonesia untuk Belanda.
Neraca perdagangan di antara dua negara sampai sejauh ini memang masih surplus untuk Indonesia.
Komoditas ekspor Indonesia ke Belanda masih didominasi bahan mentah, terutama karet dan produk karet, produk hasil hutan, kakao, kopi, ikan, dan yang tengah populer: sawit dan batu bara. Sementara impor Indonesia dari Belanda berupa peralatan telekomunikasi, suku cadang mesin, produk hidrokarbon, minyak wangi, bahan plastik, dan produk susu olahan (keju dan yoghurt).
Ke depan, Indonesia sepertinya masih akan mengandalkan sawit dan batu bara. Sebaliknya, Belanda makin gencar menawarkan teknologi dan penelitian di bidang energi.
”Penekanan pada kunjungan kali ini adalah penguatan kerja sama di bidang teknologi kelautan, energi, dan pengelolaan air,” ungkap Menteri Ekonomi Belanda Maria van Hoeven.
Itulah barangkali garis pembeda di antara dua bangsa yang memiliki persinggungan sejarah sepanjang 412 tahun ini.... (Ahmad Arif) sumber: kompas
|