Belanda, Gerbang Indonesia di Eropa PDF Cetak E-mail
Senin, 17 November 2008
Di tengah krisis ekonomi global, Menteri Ekonomi Belanda Maria van Hoeven justru datang ke Indonesia tanggal 9-13 November 2008. Dia membawa sedikitnya 32 investor dari Negeri Tulip tersebut.

Investor yang ikut dalam rombongannya kebanyakan bergerak di bidang perkapalan, penerbangan, infrastruktur, air minum, pengolahan air, finansial, penelitian bioenergi, transportasi, manufaktur, dan industri kreatif.

”Kedatangan saya ke Indonesia untuk menguatkan tradisi perdagangan antara Indonesia dan Belanda serta mendorong investasi Belanda ke Indonesia. Penekanan pada kunjungan kali ini adalah penguatan kerja sama di bidang teknologi kelautan, energi, dan pengelolaan air,” kata Maria van Hoeven, yang ditemui di Den Haag sebelum ke Indonesia.

Data dari KBRI Den Haag menunjukkan, selama periode 1967-2007, Belanda menjadi investor terbesar ketujuh di Indonesia dengan 600 proyek senilai 8,04 miliar dollar AS, sementara neraca perdagangan Indonesia dengan Belanda pada tahun 2007 sebesar 3,9 miliar dollar AS. Ekspor ke Belanda 2,9 miliar dollar AS dan impor dari Belanda 0,9 miliar dollar AS. Jadi, surplus 2 miliar dollar AS untuk Indonesia.

Komoditas ekspor Indonesia ke Belanda antara lain tekstil dan produk tekstil, elektronik, karet dan produk karet, minyak sawit, produk hasil hutan, alas kaki, otomotif, udang, kakao, kopi, makanan olahan, ikan dan olahan ikan, serta kerajinan tangan. Adapun impor dari Belanda meliputi peralatan telekomunikasi, suku cadang mesin, produk hidrokarbon, minyak wangi, bahan plastik, dan produk susu olahan seperti keju dan yoghurt.

Belanda, menurut Maria, bisa memainkan peran ekonomi lebih besar lagi. ”Belanda bisa menjadi gerbang Indonesia ke Eropa, demikian juga Indonesia bisa menjadi gerbang Belanda ke Asia,” kata Maria.

Menurut Maria, Pemerintah Belanda memiliki kebijakan jangka panjang dengan Indonesia. ”Melalui komitmen antar-menteri dan dialog politik yang intensif, Belanda dapat meningkatkan kehadiran di Indonesia,” ujarnya.

Energi terbarukan

Untuk kerja sama ekonomi ke depan, menurut Maria, Belanda sangat tertarik dengan pengembangan energi terbarukan di Indonesia. ”Kami sudah berinvestasi di sektor energi bersih di Indonesia. Sebagai contoh, program dukungan energi terbarukan senilai 46 juta euro, yang baru-baru ini dirilis di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta,” katanya.

Program ini tak hanya akan memberi bantuan pada pengembangan kapasitas masyarakat Indonesia di sektor energi terbarukan, tetapi juga membiayai investasi di bidang pembangkit listrik tenaga mini atau mikrohidro dan biogas dari limbah rumah tangga serta energi panas bumi.

Beberapa perusahaan Belanda juga tertarik untuk ikut mengembangkan bisnis di bidang energi bersih di Indonesia. Shell, contohnya, bekerja sama dengan Pertamina dengan mengembangkan carbon capture and storage (CCS). Beberapa perusahaan pembangkit listrik tenaga angin dari Belanda juga siap mengembangkan bisnis di Indonesia. ”Dan tentu saja, kami tertarik terhadap bisnis di bidang biofuels,” katanya.

”Kementerian kami mendukung studi pada pengembangan pembangkit listrik dengan sumber daya yang berkelanjutan di Pulau Bali,” ujarnya. Energi yang dihasilkan dari pembangkit listrik angin tersebut diharapkan bisa menyuplai Bali sehingga bisa mengurangi ketergantungan pasokan listrik dari Jawa.

”Pulau ini berupaya mengembangkan potensi besar di energi angin. Bali ingin mengembangkan generator listrik bersumber angin hingga 30 megawatt dan kami akan dukung,” kata Maria.

Pada Juni 2009, Kementerian Ekonomi Belanda juga akan mendukung misi bisnis Belanda di Jakarta. Misi difokuskan dalam bidang pengolahan limbah, bioenergi, penataan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.

Tantangan bagi Indonesia

Duta Besar Indonesia di Belanda JE Habibie mengatakan, kedatangan rombongan ini bermakna besar bagi Indonesia karena di tengah krisis ekonomi global mereka masih menaruh kepercayaan untuk bisa berinvestasi di Indonesia. Begitu pun sebaliknya, Indonesia harus bisa memanfaatkan Belanda sebagai gerbang ekspor Indonesia di Eropa. ”Hubungan antarnegara kian dewasa dan saya optimistis kedatangan mereka akan berdampak positif,” kata JE Habibie.

Namun, di samping menaruh harapan besar, JE Habibie juga menyisakan sedikit kegamangan. Adakah iklim investasi Indonesia sudah siap? ”Pertanyaan yang selalu dilontarkan calon investor adalah bagaimana kepastian hukum dan pemberantasan korupsi di Indonesia,” kata Habibie.

Dan, pertanyaan yang masih menunggu jawaban adalah apakah investasi itu akan membawa kebaikan pada ekonomi rakyat? (AIK)
sumber: kompas

 
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
pelayanan WNI
Advertisement
jadwal sholat
infopasarmalam 2010

Pengumuman

PENGUMUMAN PERNIKAHAN

Untitled Document Bersama ini dengan hormat...
+ Selengkapnya

Kurs IDR

11-Mar-2010 / 16:11 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9275.00 9125.00
SGD 6642.90 6512.90
HKD 1196.30 1174.90
CHF 8677.60 8513.60
GBP 13919.95 13639.95
AUD 8508.75 8334.75
JPY 103.06 100.48
SEK 1309.25 1276.85
DKK 1715.50 1669.00
CAD 9055.35 8863.35
EUR 12675.55 12442.55
SAR 2482.80 2423.80
sumber: KlikBCA.com

Ramalan Cuaca Esok

sumber: bmg.go.id

Akses Webmail

Pengguna
Sandi
Copyright © 2008 indonesia.nl
KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
Tobias Asserlaan 8, 2517 KC Den Haag