|
”Saya telah menerima banyak surat dari orang Hindia yang ingin pergi ke Negeri Belanda. Rupanya makin banyak pribumi memilih untuk menambah ilmu dan pengetahuan Eropa. Ini pilihan yang baik sekali. Makin banyak orang Hindia mengenal keadaan Eropa, makin besar harapan kita bahwa negeri kita akan menjadi negeri sebagaimana kita harapkan....”
(Abdul Rivai, Bintang Hindia, 22 Agustus 1903)
Abdul Rivai adalah salah satu orang Hindia Timur (nama lama Indonesia) yang pertama-tama tinggal dan sekolah di Belanda. Paling tidak ada dua hal dari nasihat Rivai, seperti dikutip oleh Harry A Poeze (Di Negeri Penjajah, 2008), yang ternyata masih mengena hingga sekarang.
Fakta pertama, makin banyak orang Indonesia yang belajar dan bekerja di Eropa, terutama Belanda. Kedua, negeri kita (baca: Indonesia) yang diharapkan itu tak juga kunjung terwujud, setidaknya tak bisa mendekati apalagi menyetarai kemajuan ekonomi Belanda.
Berdasarkan data World Economic Forum, Belanda menempati peringkat ke-8 negara di dunia (dari 134 negara yang disurvei) yang paling kompetitif untuk tahun 2008-2009. Untuk tahun 2007-2008, Belanda menempati peringkat ke-10.
Bagaimana dengan Indonesia? Menurut data yang sama, pada periode 2008-2009, Indonesia hanya menempati peringkat ke-55 atau turun satu peringkat dibandingkan dengan periode 2007-2008.
Dalih negara terjajah tak pernah bisa mengungguli negara penjajahnya dalam pembangunan sepertinya tak sepenuhnya benar. Contohnya Singapura yang menduduki peringkat ke-5, sementara Inggris yang pernah menjajah mereka berada di urutan ke-12.
Salah satu kekuatan ekonomi Belanda ada pada keunggulan tenaga kerja dan penguasaan teknologi. Data Statistics Netherlands (2008) menunjukkan, persentase entrepreneur di negeri ini mencapai 11,5 persen dari total tenaga kerja, terbanyak kedua di dunia setelah Kanada. Sementara data United Nation Development Programme (UNDP) menunjukkan, pada tahun 2007 Belanda menempati urutan ke-9 di dunia negara yang memiliki Human Development Index (HDI) tertinggi.
Dengan keterbatasan lahan dan minimnya sumber daya alam, pendapatan domestik kotor (GDP) Belanda mencapai 768 miliar dollar AS tahun 2007, menempati urutan ke-16 negara dengan GDP terbesar di dunia, serta urutan ke-6 di Eropa setelah Jerman, Inggris, Perancis, Italia, dan Spanyol (IMF, 2008).
Terhadap resesi ekonomi global, mereka termasuk negara yang cukup siap. Daniel van Vulven, Manajer Proyek Media Internasional pada EVD, Agency for International Business and Corporation Ministry of Economic Affairs, mengatakan, Pemerintah Belanda menyediakan dana 20 miliar euro untuk mendukung institusi keuangan dalam negeri mereka. Dana itu merupakan dana tambahan terhadap 200 miliar euro yang dijaminkan di bank guna menghadapi krisis.
Pemerintah Belanda juga memiliki kebijakan khusus untuk mendukung pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) mengingat sektor ini menjadi salah satu penopang ekonomi mereka. Sebelum krisis finansial terjadi, Pemerintah Belanda telah mengalokasikan dana jaminan untuk tiap UKM masing-masing 745 euro. Ketika krisis finansial terjadi, pemerintah melonggarkan persyaratan kepada perusahaan yang butuh bantuan. Dana ekstra yang disiapkan untuk ini mencapai 80 juta euro.
Sementara Indonesia kini harus bersiap-siap untuk berutang lagi saat diterpa krisis keuangan. Membandingkan ekonomi Indonesia dan Belanda memang teramat jauh jaraknya. Akan tetapi, apa pelajaran yang bisa diambil dari kemajuan negara yang luas wilayahnya hanya 1/183 luas Indonesia ini atau hanya sepertiga Pulau Jawa?
Sebagai perbandingan, total area Indonesia adalah 7,6 juta kilometer persegi, dengan luas tanah 1,8 juta kilometer persegi dan lautan 5,8 juta kilometer persegi. Indonesia menduduki peringkat ke-15 negara terluas di dunia, sedangkan Belanda menduduki peringkat ke-132, dengan luas 41.526 kilometer persegi, terdiri atas luas tanah 33.883 kilometer persegi dan lautan 7.643 kilometer persegi.
Berbasis riset
Belanda adalah negara yang minim sumber daya alam, tetapi memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa terhadap lingkungan. Contoh nyata kehebatan mereka adalah kemampuan mengelola air mengingat sepertiga daratan mereka lebih rendah daripada muka air laut.
Kini, ketika dunia dihadapkan pada ancaman pemanasan global dan negara-negara dituntut melakukan pembangunan bersih, Belanda termasuk negara yang paling siap. Negara ini termasuk pelopor dalam penggunaan energi angin untuk listrik. Amsterdam saat ini berhasil mendaur ulang 99 persen sampah kotanya dan sebagian hasil daur ulang itu menjadi sumber energi listrik.
Energi bersih menjadi salah satu fokus pembangunan Belanda. Keseriusan itu terlihat dari proyek ambisius Energy Rresearch Centre of the Netherland (ECN), yang mencari terobosan pengembangan energi berkelanjutan.
Proyek yang dirintis sejak tahun 1955 dan didanai gabungan antara swasta dan pemerintah ini menyiapkan diri untuk menguasai pasar energi dunia. Mereka mengembangkan penelitian mengenai energi berbasis angin, sampah, hidrogen, nuklir, dan lain sebagainya. Sebanyak 75 peneliti utama dan 650 anggota staf dari berbagai dunia dikumpulkan di sini dan sekitar 400 publikasi ilmiah dikeluarkan lembaga ini setiap tahunnya.
”Kami fokus pada penelitian mengenai inovasi energi dan mengimplementasikan langsung di pasar. Ada tiga fokus penelitian, yaitu mengembangkan energi efisien dan ramah lingkungan untuk membangun tempat tinggal, meneliti energi yang efisien untuk industri, serta mengembangkan intelligent eectricity grids untuk efisiensi penyaluran listrik,” kata CAM van der Klein, Direktur ECN.
Penelitian-penelitian ECN sebagian sudah digunakan oleh pihak industri dari berbagai dunia. Proyek ECN merupakan proyek penelitian terbesar kedua di Belanda dengan anggaran mencapai 132 juta euro per tahun.
”Blue energy” Vs ECN
Melihat Kompleks ECN di Petten, Holland bagian utara, beberapa waktu lalu, tiba-tiba mengingatkan pada proyek ”blue energy” yang digagas Joko Suprapto dan padi ”Super Toy” yang dikembangkan Tauyung Supriyadi di Tanah Air. Kedua proyek yang digadang-gadang oleh orang dekat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu ternyata hanya asal-asalan.
Ujung-ujungnya malah merugikan petani yang sudah menjadi eksperimen Super Toy dan membuat malu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang sudah telanjur menjalin kerja sama dengan Joko Suprapto dan mengumumkan penemuan blue energy atau banyu geni itu dalam berbagai kesempatan.
Nalar ilmiah kita memang terkadang masih bercampur dengan nalar mitos. Maunya cepat dengan hasil besar, tetapi melupakan usaha keras dan keseriusan.... (Ahmad Arif) sumber: kompas
|