TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
HARI PERS NASIONAL DAN HUT KE-63 PERSATUAN WARTAWAN INDOESIA
TENNIS INDOOR SENAYAN, 9 FEBRUARI 2009
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, dan para Pimpinan serta Anggota Lembaga-lembaga Tinggi Negara, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang Mulia para Duta Besar Negara-negara Sahabat,
Saudara Ketua Umum PWI Pusat, Saudara Wakil Gubernur DKI Jakarta, para Sesepuh dan para Wartawan Senior, para Pimpinan Organisasi-organisasi Profesi yang bergerak di bidang media massa dan pers, para Cendekiawan, para Pimpinan Dunia Usaha, utamanya usaha media massa, para Wartawan yang saya cintai, para Mahasiswa yang saya banggakan,
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, perjuangan kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta. Atas nama negara dan Pemerintah, dan selaku pribadi, saya mengucapkan Hari Pers Nasional kepada seluruh insan pers di tanah air. Semoga Saudara semua dapat terus meningkatkan pengabdian bagi kemajuan bangsa dan negara di masa depan.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Tahun lalu di Semarang, saya menyampaikan pidato pada Hari Pers Nasional Tahun 2008. Pokok-pokok yang saya sampaikan waktu itu antara lain, apresiasi saya, penghargaan saya yang setinggi-tingginya kepada pers dan dunia media massa yang telah berperan besar dalam memekarkan kehidupan demokrasi di negeri tercinta ini.
Yang kedua, saya sampaikan juga berkaitan dengan penggunaan kemerdekaan pers adalah bagaimana kita membangun harmoni, keseimbangan antara freedom dengan rule of law, antara kebebasan dan tegaknya pranata, baik pranata hukum maupun pranata sosial. Saya juga menyampaikan bahwa idealisme pers harus tetap ditegakan, meskipun kadang-kadang kompetisi dalam bisnis dunia, ulangi dalam bisnis media massa juga tinggi.
Kita berbicara waktu itu self sensoring. Kita membahas the principle of balance dan juga cover both side, apabila ada isu yang sensitif, yang diharapkan rakyat, atau publik bisa melihat gambaran, masalahnya secara utuh. Kita juga membahas tentang teori batas kepatutan, mana batas yang sebaiknya tidak dilanggar demi kemashalatan rakyat kita, publik kita. Kita juga menggarisbawahi, bahwa bahasa menunjukan bangsa, content bahasa seperti apa yang mesti kita hadirkan melalui media massa kita.
Dan yang terakhir waktu itu Saudara-saudara, kita mengangkat tentang positive journalism, constructive journalism. Apa yang kita bahas sesungguhnya adalah bagian utuh, segi-segi penting dalam kehidupan pers, yang kehidupan pers itu bagian dari kehidupan demokrasi. Saudara Menteri Komunikasi dan Informatika menggarisbawahi, bahwa pers adalah pilar penting dalam kehidupan demokrasi di sebuah negara.
Saudara-saudara,
Malam ini, saya akan mengangkat satu topik yang tentu semua sangat mengenalinya, yaitu pers, demokrasi, dan pemilihan umum. Namun ijinkan saya, malam ini ingin menyampaikan semuanya itu secara tidak sangat formal. Saya ingin menggunakan gaya yang berbeda dengan sambutan-sambutan sebelumnya. Saya ingin menjadi sersan, serius tapi santai, mudah-mudahan bisa ditangkap secara gamblang oleh hadirin sekalian.
Yang ingin saya kedepankan adalah renungan-renungan tentang pers, demokrasi, dan pemilihan umum. Renungan pertama, adalah yang disebut dengan kebenaran kecil dan kebenaran besar. Pada Perayaan Hari Imlek beberapa hari yang lalu, Saudara Budi Santoso Tanuwibowo, Ketua Matakin, menjelaskan di hadapan hadirin, yang saya juga hadir di tempat itu, tentang kisah yang akhirnya bisa diangkat nilainya, falsafahnya, prinsip kehidupannya sebagai kebenaran kecil dan kebenaran besar.
Kisah itu adalah sebagai berikut. Pada suatu saat ada dua orang murid, yang satu bernama Yan Juan, murid yang paling pandai, yang satunya lagi tidak disebutkan namanya, katanya murid yang paling tidak pandai. Dua-duanya berguru kepada Kong Cu atau Konfusius yang oleh umat Konghucu disebut sebagai Nabi Kong Cu. Kisahnya begini, Yan Juan, si murid pandai, dengan murid satunya lagi sedang bercakap-cakap. Murid yang tidak pandai menantang murid yang pandai. “Mari kita berlomba?” “Apa Maksudnya?” “Saya mengajukan pertanyaan 8 kali 3 berapa?” Yan Juan menjawab, “24.” “Salah, yang betul 23.” “24 dong.” “Salah, kamu katanya pandai, ternyata jawabannya 24, yang betul 23.” Berdebat di situ. Yang tidak pandai menantang, mari kita datang ke guru. “Kalau saya yang salah, jawabanmu yang benar 24, saya akan memotong leher saya sendiri. Kalau kamu yang benar ternyata jawabannya 24, topimu kamu lepas.” Topi melambangkan kecendekiawanan, kepandaian seseorang waktu itu. Yan Juan tidak ingin seperti itu, karena khawatir dan cemas, kalau ada apa-apa dengan temannya itu.
Singkat kata, karena tidak mencapai titik temu, datanglah ke Nabi Kong Cu. Sampai di tempat itu Kong Cu berkata, “ada apa?” Dijelaskanlah oleh dua-duanya tentang lomba itu. Dengan berdebar-debar dua-duanya menunggu jawaban Kong Cu. “Yang benar berapa, Guru? 8 kali 3 itu berapa?” “Yang benar ya 23.” Mendengar itu Yan Juan, murid yang paling pandai kecewa sekali, marah, bahkan menuduh sang guru telah berbohong. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan mengancam akan keluar dari perguruan itu dan tidak ingin menjadi muridnya.
Sang Guru Kong Cu tersenyum, “Silakan. Cuma begini Yan Juan, kamu akan jalan barangkali ada hujan lebat, hujan besar, jangan deket-deket dengan pohon yang besar, atau berlindung karena pohon itu akan tumbang.” Keluar dia dari situ. beberapa saat hujan lebat, badai angin kencang. Ketika mendekati pohon, ingat kembali pesan Kong Cu, dengan cepat dia meninggalkan pohon itu dan betul saja dalam hitungan detik pohon tumbang menghancurkan semua yang ada di sekitarnya.
Dia terhenyak, dia mengatakan Kong Cu bukan orang sembarangan. Ia kembali, kepada Kong Cu memohon maaf atas kekasarannya dan kemudian barangkali ada nasihat. Yan Juan dengarkan, “Kalau saya ditanya 8 kali 3 yang benar ya 24, tetapi bayangkan kalau saya mengatakan 24 waktu itu, kamu akan menyesal seumur hidup, kamu akan merasa berdosa, karena ada seorang temanmu yang nyawanya hilang karena kamu.” 8 kali 3 atau 24 dalam konteks ini adalah kebenaran kecil, kebenaran matematis. Kebenaran besarnya adalah berapa nyawa orang yang harus diselamatkan.
Saya ingin mengaplikasikan the principle, falsafah dari kebenaran kecil dan kebenaran besar. Sebentar lagi akan ada pemilihan umum, sekarang berlomba, barangkali parpol-parpol mana yang akan unggul nilainya, kelak Capres dan Cawapres mana yang akan terpilih itu adalah kebenaran kecil. Kebenaran yang besar adalah pemilu di Indonesia harus berjalan secara aman, tertib, damai, jujur, adil, dan demokratis. Yang membawa kemashalatan bagi bangsa dan negara di masa depan. Mari kita renungkan tentang kebenaran kecil dan kebenaran besar, dan aplikasinya dalam kehidupan demokrasi atau pemilu yang akan datang.
Masih soal kebenaran kecil dan kebenaran besar, bagaimana kita mengaitkan dengan kehidupan pers. Suatu saat insya Allah tidak terjadi lagi, di masa lalu sering terjadi, terjadilah kerusuhan besar, konflik horizontal, konflik komunal, korban berjatuhan masih dalam suasana yang panas hampir serang-menyerang di antara kampung, di antara mereka yang bertikai. Ada insan pers di situ, ada dilema, apakah dia meliput utuh, apa adanya, telanjang, tanpa kontrol, apalagi dengan tulisan-tulisan bahasa, bahasa yang provokatif. Karena dia ingat rakyat ingin tahu, memenuhi the right to know of the people terhadap apa yang terjadi. Kalau itu yang dipilih, sesungguhnya itu kebenaran kecil.
Tetapi insan pers yang sama, melihat semuanya itu, diberitakan memang ada perselisihan, ada korban dan begini, begitu, tapi ada batas yang dia tidak bisa ungkapkan, agar tidak terjadi suasana yang lebih buruk, porak-poranda daerah itu. Menunda pemberitaan, mencari timing yang tepat, memilih bahasa-bahasa yang tidak saling memprovokasi dan membawa kegelapan di daerah itu, itu adalah kebenaran besar. Mari kita camkan bersama-sama, renungan berkaitan dengan kebenaran kecil dan kebenaran besar ini.
Hadirin sekalian,
Renungan yang kedua adalah yang disebut dengan sasaran antara, immediate objectives dan sasaran pokok, main objectives. Saya mengambil contoh dari dunia militer, Panglima TNI dan para Pimpinan TNI pasti memahaminya. Andaikata dalam sebuah peperangan, China ingin merebut merebut kota Bandung dan sekitarnya dengan cara-cara militer, maka ada serangkaian operasi yang dilakukan, merebut jembatan Rajamandala, menghancurkan Bandara Husein yang ada di Bandung, menguasai Lembang dan Ciater, memutus garis di belakang yang menuju ke arah Sumedang. Itu semua adalah sasaran antara. Sasaran utamanya merebut, menduduki, dan menguasai Bandung sebagai kota strategis di Jawa Barat. Kita harus membedakan mana sasaran antara, mana sasaran pokok. Demikian juga dalam Pemilu ini, barangkali insya Allah pada pemilu nanti setelah April, akan ada anggota DPR baru, anggota DPD baru kemudian ada Presiden, Wakil Presiden, dan semua hasil dari pemilu tahun 2009. Itu adalah sasaran antara.
Sasaran pokoknya adalah dengan Pemilu ini dihadirkan perangkat-perangkat yang diharapkan kredibel dan efektif, sehingga harapan rakyat 5 tahun berikutnya lagi, kehidupan bernegara jalannya pemerintahan, itu dapat dilaksanakan dengan baik itu akan terwujud. Marilah kita pahami betul, mana yang menjadi sasaran antara dan mana yang menjadi sasaran pokok. Nilai moralnya adalah siapapun yang terpilih menjadi anggota DPR, DPD, DPRD, Presiden, Wakil Presiden, Menteri adalah untuk menjalankan kewajibannya setelah mereka terpilih dalam Pemilu, demi memajukan kehidupan negara yang kita cintai ini.
Masih ada dua renungan lagi. Renungan yang ketiga, Saudara mendengar konsep kebenaran, the concept of truth, seperti apa? Kita sering mendengar right or wrong is my country. Ada yang tidak setuju, “Ah itu kuno itu.” Yang betul right is right, wrong is wrong. Yang mengatakan benar atau salah itu negara saya, silakan, tapi kalau saya begitu ada yang berpendapat, kebenaran-kebenaran, yang salah ya salah.
Saya ingin mengangkat satu cerita. Siapa yang senang menonton wayang? Siapa yang mendengar cerita Ramayana? Ramayana ada sebuah negara Alengka, rajanya bernama Dasamuka atau Rahwana. Dia punya dua adik, tiga sebetulnya, satu namanya Kumbokarno, raksasa yang besar, satu lagi Gunawan Wibisono seorang ksatria. Singkat kata Rahwana menculik Dewi Sinta, tindakannya dzalim, melanggar hukum, dan tidak terpuji. Terjadilah perdebatan yang sengit. Kumbukarno mengatakan, ”Kakanda salah, Kakanda memalukan, Kakanda melaksanakan tindakan yang tidak terpuji, segera kembalikan Sinta.” Rahwana tidak mau. ”Baik kalau begitu saya akan pergi saja, pergi sementara.” Orang mengatakan tidur. Datanglah Gunawan Wibisono mengatakan yang sama, malahan Gunawan Wibisono disuruh pergi, ditendang keluar dari istana itu.
Mendengar itu, Kumbokarno datang dengan marah-marah kenapa mengambil keputusan seperti itu. ”Kanda yang salah bukan Adinda, Gunawan Wibisono yang sala.” Apa yang terjadi? Karena Rahwana berketetapan dengan keputusannya, Kumbukarno pergi ke Medan laga dan akhirnya gugur. Dia gugur bukan membela Rahwana, tapi gugur membela bangsa dan negaranya. Dia mengatakan atau berpegang pada prinsip right or wrong is my country. Gunawan Wibisono menyeberang ke pihak Rama, menjadi penasehat, dan ikut berperang, karena ingin menegakkan kebenaran dan keadilan. Di situ Gunawan Wibisono menganut prinsip right is right, wrong is wrong.
Cerita saya belum selesai, belum selesai. Saya tambahkan dua renungan lagi. Siapa yang pernah menonton film Rambo, First Blood? Singkat kata, Rambo, Sylvester Stallone main, masuk ke Vietnam ingin membebaskan sandera, tapi setelah masuk ke dalam, dengan segala pengorbanan hampir hilang nyawanya, ia dikhianati oleh seorang politisi yang memasukan si prajurit yang handal ini ke medan laga di Vietnam. Akhirnya dia pulang, misinya berhasil, tapi dia ngamuk, dibabat habis itu markasnya, diberondong semua.
Datanglah seorang kolonel, seniornya, mentornya si Rambo ini. Kolonel itu bernama Kolonel Samuel Trautman, tapi sesungguhnya yang main adalah Richard Crenna. Berjalanlah sang Kolonel dengan Rambo. ”John Rambo, kenapa kamu begitu?” Dia mengerti sangat sakit hatinya Rambo ini dikhianati, kemudian mengapa harus begini perang di Vietnam dan sebagainya dan sebagainya. Apa kata-kata dia, ”John, perang ini barangkali perang yang salah, di tempat yang salah, di waktu yang salah, tapi jangan kau benci bangsa dan negaramu.”
Satu lagi, tahun 1992-1993, ketika Yeltsin menjadi Presiden di Rusia. Saudara masih ingat terjadi kemelut antara Parlemen Rusia dengan Yeltsin, terjadi kekerasan ada pasukan yang ingin melakukan penembakan-penembakan di gedung di Moscow waktu itu. Ada seorang pecatur dunia, juara dunia, saya agak lupa namanya, apakah si Karpov atau Kasparov, dua-duanya juara. Intinya begini. Wartawan bertanya sedang pertandingan catur. ”Eh, Karpov atau Kasparov, itu gimana negerimu kok tembak-tembakan begitu.” ”Iya itu bagaimana kota ada mortir datang, terjadi kekerasan,” dijawab si Karpov atau si Kasparov itu, ”Tapi ingat bung, saya tetap seorang Rusia.”
Apa maknanya Saudara-saudara? Inilah konsep utuh tentang right or wrong is my country, ada right is right, wrong is wrong, konsep tentang nasionalisme, tentang kesetiaan kepada negerinya dan sebagainya. Sekarang dimana posisi kita? Dimana posisi pers? Pilih right or wrong is my country atau right is right, wrong is wrong?
Begini, begini sepuluh tahun yang lalu, tahun 1999, Pak Jacob Oetama, saya masih bertugas di TNI. Saya menjadi Ketua Fraksi MPR dari TNI, menulis sebuah artikel yang dimuat di Harian Tajuk, bukan harian, Majalah Tajuk, silakan dilihat September 1999. Itu tentang dilema Timor-Timur waktu itu, saya menulis. Tolong dilihat tulisan saya, yang intinya begini, tidak perlu didikotomikan right or wrong is my country, atau right is right, wrong is wrong. “Begini kalau saya,” kata SBY waktu itu, ”Karena benar atau salah negara kita, mari kita bikin negara kita benar dan jangan biarkan negara kita salah.”
Saya ulangi lagi, karena benar atau salah negara kita, because right or wrong is my country, jangan biarkan negara kita berbuat salah, mari kita bikin negara kita berbuat benar, so lets always make sure our country is right and not wrong. Ini semua masih hidup, it is all alive, ya mari kita praktikkan dalam kehidupan berdemokrasi di negeri ini, di dunia pers, di dunia politik, semua, semua, karena tentu kita ingin memberikan yang terbaik bagi perkembangan demokrasi yang tengah mekar di negeri ini.
Hadirin sekalian,
Itulah yang saya sampaikan dan saya mengucapkan terima kasih atas pemberian kepada saya, pin emas tadi. Saya sungguh ingin menjadi bagian dari makin kuatnya kemerdekaan pers. Dan saya hanya salah satu dari pelaku demokrasi di negeri ini. Saya akan terus menjadi student of democracy yang baik.
Terima kasih.
Selamat Saudara-saudara.
Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan