|
Pemerintah Jerman mengajak Indonesia menjalin kerja sama perdagangan bebas (free trade area/FTA) dengan Uni Eropa (UE). Menteri Ekonomi Negara Bagian Baden, Wuttemberg Ernst Pfister, mengatakan bahwa kerja sama FTA akan meliputi lima sektor usaha, yakni automotif,panas bumi, farmasi, bioenergi, dan infrastruktur. Kerja sama tersebut akan memudahkan akses pasar di kedua pihak. Dalam kerja sama dengan Indonesia, lanjut dia, pemerintah Jerman akan berkonsentrasi untuk mengembangkan industri automotif, teknologi kedokteran, industri farmasi, energi terbarukan, serta peralatan rumah sakit. ”Kami akan konsentrasi di bidang-bidang usaha yang kami kuat,” tuturnya seusai bertemu dengan Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris di Jakarta kemarin. Dia menilai Indonesia memiliki energi panas bumi yang melimpah, sedangkan Jerman mempunyai teknologi untuk mengolahnya. Dalam bidang ini,jelasnya,akan terjadi kerja sama saling menguntungkan di antara kedua negara. ”Investasi juga dan kami akan membantu infrastruktur Indonesia dari negara bagian kami,”jelas dia. Fahmi Idris mengatakan, Indonesia terbuka dalam menjalin kerja sama perdagangan dengan Jerman atau UE. Namun, FTA Indonesia- Jerman bisa dilakukan kalau kerja sama perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Eropa dapat dilakukan. ”Karena itu, saya mengatakan bahwa Pak Ernst perlu menghubungi menlu di sana dan menghubungi Ketua Uni Eropa,untuk segera mungkin membicarakan FTA antara Indonesia dan UE. Baru kemudian, kita bicara FTA Indonesia dengan Jerman,”katanya. Fahmi menilai Jerman memiliki kelebihan di beberapa cabang industri dengan standar aplikasi teknologi yang tinggi.Misalnya di sektor geotermal (panas bumi),Jerman bisa mengembangkan pembangkit tenaga listrik bertenaga panas bumi. ”Selain itu, di sektor farmasi di mana mereka (Jerman) memiliki produk farmasi yang berkualitas tinggi.Dan jumlah penduduk Indonesia yang besar itu, menjadi salah satu potensi kerja sama,” papar dia. Dalam upaya kerja sama, lanjut Menperin, investor asal Jerman bisa mencari mitra di Indonesia dengan membangun perusahaan patungandi bidang-bidang yang menjanjikan.” Di bidang automotif, beberapa prinsipal Jerman memang sedang mengkaji masuk ke Indonesia,” ucapnya tanpa menyebut prinsipal automotif yang dimaksud. Sementara terkait rencana kerja sama kedua negara, pemerintah mengundang prinsipal automotif asal Jerman membangun pabrik di Indonesia. Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dijadikan basis produksi, khususnya produk multi-purpose vehicle(MPV). Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Depperin Budi Darmadi mengatakan, UE seharusnya bisa melihat potensi Indonesia sebagai basis produksi di kawasan ASEAN. ”Sudah saatnya ditingkatkan menjadi basis produksi produk mobil setir kanan.Pasalnya,Australia bisa menjadi potensi pasar baru untuk produk mereka dengan disetujuinya FTA Indonesia dan Australia beberapa waktu lalu,”ujar Budi. (Koran SINDO)
|